Ari Kuncoro 2 – edisi Indonesia

Just another WordPress.com weblog

Orang miskin selalu disuapin, ya makin miskin

Pagi ini saya menonton TV. Beberapa Menteri seperti MenKeu, MenPerdagangan, Menkokesra, dan Jubir Presiden berbicara mengenai kenaikan BBM. Sebuah ironi, saya pikir. Indonesia yang memiliki kelimpahan SDA, rakyatnya makin susah hidup, karena harga barang-barang makin tinggi.

Mari tengok pertanyaan dan kesimpulan saya ini:
Jadi selama ini, BBM itu disubsidi dan yang menikmati orang-orang kaya?

Mmm, itu yang saya tangkap, karena Jubir bilang bahwa sudah saatnya kita mensubsidi orang miskin, bukan mensubsidi barang. Wah-wah… ada benarnya, tapi ada salahnya.

Apa benarnya, coba?

Memang, yang menikmati subsidi BBM selama ini kebanyakan orang kaya. Orang kaya biasanya punya kendaraan pribadi minimal mobil. Misal, satu mobil seminggu habis 30 liter. Nah, orang miskin, yang maksimal punya motor aja, seminggu habis 4 liter. Dengan ini, memang benar, subsidi BBM yang diambil orang kaya yang terkandung dalam BBM 30 liter/minggu itu dialihkan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan.

Lalu salahnya? Ati-ati, pak. Kalau orang miskin disubsidi terus lewat bantuan langsung tunai (BLT), mereka bakal ketergantungan. Lebih baik ngasih beasiswa ke anak-anak didik yang benar-benar kurang mampu. Porsi itulah yang seharusnya lebih besar. Bukankah mereka yang akan meneruskan cita-cita bangsa? Memang, sih… dengan memberikan beasiswa ini, naiknya tingkat kesejahteraan bangsa tidak bisa dilihat dalam waktu sebulan dua bulan. Baru bisa dilihat minimal 15 tahun ke depan. Justru saat inilah yang tepat, bagi pemerintah untuk memberikan perhatian yang lebih bagi dunia ini. Nanti, nama pemerintahan ini akan harum, karena menjadi tonggak sejarah baru bahwa pemerintah sangat perhatian dengan dunia ini. Tau nggak, pak? biaya masuk sekolah SMA favorit tempat saya dulu sekolah sudah mencapai angka 5 juta. Yang miskin makin bodoh, yang kaya makin pinter.

Yang jadi kasihan, adalah pemilik jasa transport. Biasanya, tinggal naikin harga jasa. Tapi, sama saja itu mencekik warga miskin yang menggunakan jasa angkutan umum. Pengeluaran makin besar. Salah satu solusi agar ongkos angkutan tidak naik, kita bisa meniru Malaysia. Yang baik-baik ditiru, lah. Di sana, kendaraan umum dijatah BBM murah! Tapi, sekali lagi, pengaturannya harus jelas. Bisa-bisa BBM murah disalahgunakan buat kendaraan pribadi!

Kalau dipikir-pikir, kenaikan harga minyak mentah di kisaran 120 dollar per barrel ini memang aneh. Kok bisa ya, naik? padahal kan produksi minyak dunia stabil-stabil juga. Nggak drop amat. Setahun lalu baru 70 dollar. Sekarang naik 70%. Apa ada pihak produsen minyak yang menimbun produk minyak mentahnya? Tapi, nggak penting dengan itu semua. Yang penting bagaimana pemerintah menyiasati keadaan ini, dengan mengutamakan kepentingan rakyat.

Kalau orang miskin pakai minyak tanah, mengapa nggak minyak tanah aja yang disubsidi lebih. Harga bensin dan BBM elit buat mobil-mobil orang kaya itu dilambungkan saja nggak papa, asal tau batasnya. Kalau perlu, sampai mereka malas menggunakan mobil pribadi, karena naik kendaraan umum lebih murah dan nyaman.

Jadi solusi?

Untuk Indonesia yang lebih baik, menurut saya simpel. Mulai sekarang, sekolahkan anak-anak Indonesia yang pinter-pinter sesuai dengan minat dan bakatnya. Kalau perlu ke luar negeri. Yang suka teknik dan science kirim ke Jerman, tiru produk-produknya yang berkualitas tinggi. Biayanya?
Misalkan, anak2 Indonesia ada 1 juta orang yang dikirim. Satu orang dengan biaya 150 juta setahun. Berarti butuh 150.000.000.000.000 (150 trilyun!) setahun. Investasi ini seterusnya ada dalam APBN. Walaupun tidak semua anak2 Indonesia pulang ke negeri asalnya, paling tidak 60% lah, yang mau membangun Indonesia. Kita tidak perlu menyewa orang-orang asing lagi. Tidak ada orang asing yang mau membantu bangsa lain dengan sepenuh hati. Pasti mereka mengharapkan imbalan dan keuntungan. (gunakan prinsip ini).

Tadi itu solusi jangka panjang dan saya rasa efektif. Untuk solusi jangka pendek, ya… naik harga BBM merupakan salah satunya. Tak apa. Asal pemerintah sadar dan benar-benar menjalankannya, rakyat pasti senang.

Seperti Pak SBY bilang dalam pidato kebangkitan nasional kemarin. Salah satu dari tiga hal yang perlu untuk memajukan Indonesia adalah kemandirian. Kemandirian itu harus dimulai dari individu, dan dimulai sejak dini. Mendidik anak lebih gampang daripada mendidik orang tua, yang umurnya udah 30an tahun ke atas. Mereka sudah bebal. Bahkan sudah terkontaminasi. Dari situ, muncullah pribadi-pribadi Indonesia yang mandiri, sehingga benar-benar sadar bahwa Indonesia harus mandiri.

Sulit? Jangan bilang sulit kalau belum dicoba. Apakah kita harus jatuh dulu baru bisa bangkit? tidak juga. Apakah jatuhnya bangsa kita pada masa krisis moneter itu belum membuat kita sadar? Wah, payah, kalau belum sadar. Bersiaplah untuk menuju Indonesia yang maju. Kemandirian menjadi modal utama. JANGAN BERGANTUNG pada ASING. Sekali lagi. Sayangilah diri kita dengan kemandirian, tanpa harus bergantung pada mereka. Saya tidak mempropagandakan untuk membenci bangsa asing. Tetapi, saya ingin kita menyayangi bangsa kita dengan tidak bergantung pada kucuran dollar tak betul itu.

Terinspirasi dari kuliah umum Pak Rizal Ramli

Belum ada komentar »

Komentar Anda

HTML-Tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>